Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Translate this page

Kelomang dan Habitatnya Di Hutan Mangrove

Keong hias yang biasanya untuk mainan anak-anak, merupakan kepiting Pertapa (Hermit Crab) atau yang lebih umum dikenal dengan nama Kelomang Darat, Kelomang atau Pong-pongan, yaitu krustasea unik yang hidup di pesisir dan rawa mangrove, dari infra ordo Brachyura, berjenis Coenobita sp.

Dibalik warna cangkang palsunya yang telah dilukis sedemikian rupa sehingga menarik minat pembeli, kiranya kita lupa akan bahaya kehidupan dan konservasinya.

Kelomang merupakan salah satu binatang yang “masih bersaudara” dengan kepiting, dari keluarga krustasea. Sejak lahir, dia memang tidak memiliki rumah atau cangkang ditubuhnya. Untuk itulah, dia mencari dan memakai rumah dari cangkang keong untuk dijadikan “Tempat-Tinggal-Berjalannya” TTB.

Adapun warna sebenarnya tidaklah seperti permen berwarna-warni, melainkan berbentuk cangkang keong biasa yang berulir. Namun, setelah dilukis dengan cat tertentu oleh sang Penjual, maka berubahlah cangkang-cangkang Kepiting Pertapa ini, menjadi seperti “permen warna-warni”.

Wujud asli Kelomang Darat yang hidup di pesisir dan rawa mangrove
Dibalik fakta keberadaan Kelomang yang diperjualbelikan, sebenarnya ada hal negatif yang patut dikhawatirkan. Memperjualbelikan Kelomang tanpa dibudidaya, adalah sebuah tindakan yang tidak baik dan tidak konservatif.

Dilihat dari sisi ekologis, Coenobita memiliki peranan penting dalam turut serta menjaga aliran energi yang terjadi di rawa mangrove. Daur hidup Kelomang memperlihatkan bahwa dia masuk dalam jaring-jaring makanan yang apabila populasinya berkurang, maka akan mempengaruhi keseimbangan keseluruhan ekosistem.

Ketiadaan Kelomang dalam sebuah ekosistem mangrove, akan membahayakan kehidupannya dan mengancam kelestarian mangrove di masa depan.

Terlebih lagi, para pedagang ini, jika tidak melakukan penangkaran Kelomang sendiri, melainkan langsung mengambilnya dari alam secara terus-menerus secara berlebihan, maka populasinya akan semakin menipis.

Hal ini, tentu saja akan mengakibatkan pada ketidakseimbangan ekosistem mangrove. Semoga saja, kedepan kita lebih bijak dan arif lagi dalam menyikapi fenomena ini.

Sumber : https://mangrovemagz.com/2017/02/28/bila-kelomang-tak-hidup-di-hutan-mangrove/