Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Translate this page

Solusi dan Cara Menghadapi Anak yang Ceriwis

Ceriwis memang baik untuk mengasah kecakapan berbicaranya, tapi orangtua juga berhak untuk tidak terus-menerus menjawab pertanyaan anak. Sebab, dalam kondisi tertentu orangtua tentu tidak dapat meladeni pertanyaan anak. Maka orangtua perlu mengajarkan agar anak pun perlu tahu saat yang tidak tepat untuk berceloteh. Misalnya ketika ayah atau ibu sedang ada tamu, maka anak harus tahu, pada saat itu orangtua tidak dapat melayani celotehannya.

Untuk menerapkan hal itu tidaklah mudah karena kemampuan berpikir anak belum sampai sejauh itu. Kecuali pada anak-anak usia prasekolah akhir. Meski begitu, kita tetap harus berusaha tanpa harus memarahinya. Berikut ini caranya:

1. Cobalah pahami kebutuhan anak dengan respons positif seperti, "Wah, seru banget ya cerita Adek...." Kemudian yang kedua, lanjutkan dengan ajakan agar anak bisa mengendalikan keinginan bicaranya, "Tapi sekarang Bunda sedang ada tamu. Setelah Bunda selesai bicara dengan tamu, kita bahas lagi ya nanti."

2. Bila anak tak putus-putus bertanya atau bercerita, kita pun boleh hentikan. Tentunya, lakukan dengan cara baik-baik, "Wah, cerita Adek banyak sekali. Tapi karena ayah harus mengganti ban mobil, ceritanya kita sambung lagi, ya." Atau, Boleh juga dicoba, "Sudah dulu ya bicaranya. Sekarang coba tarik napas dan mulutnya, istirahat. Kalau Adek masih mau cerita, coba lewat gambar." Cara seperti ini, selain membuat anak jadi tenang, juga menawarkan cara lain untuk bercerita.

3. Hindari menyuruh anak diam dengan kasar, memarahi, atau mengabaikannya, karena semua itu hanya akan membuat semangatnya untuk berbicara turun. Anak akan berpikir, "Ah, males kalau cerita sama Bunda, aku disuruh diam," atau, "Ah, ngapain tanya-tanya, nanti malah diomelin." Semakin lama bukan tidak mungkin anak akan semakin menghindar, sehingga kelak dia memilih bersikap tertutup pada orangtua.

4. Hindari penggunaan kata larangan seperti, "jangan","tidak boleh", dan sejenis itu. Semakin sering kata-kata tersebut diucapkan, anak bukannya menghentikan apa yang dilarang, tetapi justru terdorong melakukannya. Selain itu, tak perlu bereaksi berlebihan bila apa yang diungkapkan anak terkesan mengada-ada, alias berfantasi. "Ma, tadi Dodi pakai baju Superman, terus bisa terbang. Beneran lo, Ma!"

Adakalanya anak bercerita suatu kehebohan hanya untuk mendapatkan perhatian dari orang yang mendengarnya. Maka cukup berikan simpati pada ceritanya, "Oh, ya? Ada yang seukuran Bunda enggak, bajunya? Tapi coba deh Adek ingat-ingat lagi, waktu itu Adek pernah loncat dari kursi ke jendela dan jatuh, padahal kamu sedang memakai kostum Spiderman. Berarti benar enggak ya, baju Superman bikin adik bisa terbang?" Jawaban itu tentu akan memancing kemampuan berpikir anak.

Sumber: Tribunnews.com