Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Translate this page

H Mardjito Bisa Dapat Rp 27 Juta per Bulan

H Mardjito (54), sejak tahun 1980 sudah menjadi pemulung. Kini 32 tahun kemudian, dari profesinya itu, ayah lima anak ini telah menjadi pengusaha sukses yang per bulan berpenghasilan rata-rata Rp 23-27 juta.

Awalnya adalah pemulung sampah, usaha suami dari Hj Maklifah inipun tak jauh dari sampah. Di salah satu tempat usahanya di daerah Kutisari, yang terlihat adalah tumpukan kantong hitam yang terlihat penuh dan berat. Meski sama-sama kotor, namun sampah dalam kantong-kantong hitam itu lebih rapi dan mudah untuk disortir. Empat orang perempuan terlihat membuka salah satu kantong dan kemudian menumpahkan isinya. Dari isinya itu, tangan mereka berebutan untuk memisah-misahkan jenis sampah. Mulai dari sampah plastik, sampah kertas, hingga sampah kaca atau beling.

”Seperti inilah kegiatan usaha saya. Sampah-sampahnya lebih rapi dan ada di kantong plastik hitam semua, karena ini adalah sampah dari mal, pusat perbelanjaan dan apartemen, yang berbeda dibandingkan sampah dari pasar, pemukiman, atau perumahan,” jelas pria yang akrab dipanggil Abah Djito ini.

Di tempat itulah, Abah Djito mengumpulkan kantong-kantong sampah yang diambilnya dari mal, pusat perbelanjaan, dan apartemen. Di ketiga tempat itu, sampah sudah dibuang di tempat sampah umum. Kemudian dari masing-masing tempat sampah umum itu, dibuang dengan dimasukan ke kantong plastik. Dari kantong plastik baru dibuang di bak penampungan sampah mal.

Nah, Mardjito menjadi pengepulnya, dengan menyediakan bak penampungan itu. Setiap hari, ada anak buahnya yang mengambil sampah-sampah di bak penampungan itu lalu dibawa ke Kutisari untuk disortir. ”Enaknya, sampah di tiga tempat ini umumnya sudah terbagi menjadi sampah basah dan kering. Yang basah biasanya langsung dibawa ke TPA Benowo,” jelas Mardjoto.

Menjadi pengepul sampah khusus mal dilakukan Mardjito sejak tahun 1990an, saat mal mulai marak di Surabaya. Diantaranya sampah di mal CITO, DTC, SUTOS, dan apartemen Metropolis. Untuk masuk ke tempat itu, Mardjoto langsung menemui bagian operasional gedung dan menawarkan niatnya mengurus sampahnya.

Usai disortir di Kutisari, Mardjito, yang sejak 10 tahun lalu menjabat sebagai Ketua Paguyuban Pemulung Indonesia (PPI) ini, kemudian membawa hasil sortiran jenis sampah plastik di tempat usaha lainnya di daerah Medokan Ayu. Di tempat itu, Mardjito memiliki alat pemecah plastik. “Sampah berbahan plastik sebelumnya dibedakan juga jenis-jenisnya. Setelah itu baru dipotong kecil-kecil seukuran ½ cm x ½ cm dengan mesin,” jelasnya.

Dari alat itu, dihargai setiap 1 kg-nya sebesar Rp 9.000. Dengan rata-rata produksi 4 ton per bulan. Ditambah sampah kertas dan kaca atau beling, pendapatan Mardjito yang tinggal di daerah Nginden Jangkungan itu, per bulan Rp 23 juta hingga Rp 27 juta. Dari jumlah itu, Mardjito membaginya untuk biaya sekitar 25 karyawannya, mulai dari sopir truk, operasional sopir truk, operasional alat pemecah plastik, dan ongkos para penyortir, termasuk biaya hidup kelima anaknya.

Anak-anak Mardjito, hanya nomor satu yang bekerja di sebuah pabrik kayu di Kalimantan, dan nomor dua, mengikuti jejaknya dengan membantu manajemen pengoperasian truk pengambil sampah. Truk pengambil sampah di mal, Mardjito memiliki sembilan, terdiri empat truk besar dan lima truk kecil. ”Sedang tiga anak saya lainnya, masih mondok di Kediri dan Tuban,” imbuh Maklifah.

Tak hanya keluarganya sendiri. Diantara anak buahnya yang bekerja di berbagai bidang, khusus bagian penyortir, Maklifah ikut mengurusnya dengan memberi tempat tinggal dan makan. ”Selanjutnya per bulan ada gaji uang tunai sendiri sekitar Rp 600.000 hingga Rp 800.000. Kalau yang mau berhenti atau sudah waktunya berhenti, juga akan mendapat uang saku yang bisa lebih besar,” lanjut Maklifah.

Banyak mantan anak buahnya yang sudah keluar dan mendapat pekerjaan lain atau bahkan menjadi pengusaha di daerah lain. ”Pernah ada yang datang, mengaku dulu anak buah saya sebagai pemulung, saat ini sudah jadi pengusaha besi tua datang untuk bersilaturahmi. Saya terkejut, ternyata yang dulu ikut saya bisa berhasil lebih dari saya. Alhamdulilah,” tandas Mardjito, yang pernah menjadi korban penggusuran tanggul di Nginden Intan, awal tahun 2000an.

Sumber: surabaya.tribunnews.com/