Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Translate this page

Enduh Nuhudawi, Bedah 118 Rumah Bermodal Seratus Rupiah

Uang Rp 100 memang nilainya kecil, tapi bagi masyarakat Desa Situ Udik, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, nilai uang kecil itu ternyata banyak manfaatnya.

Enduh Nuhudawi (50), Kades inilah yang membidani bedah rumah yang tak layak huni hanya dengan modal Rp 100. Apa yang dilakukannya cukup unik dan layak dijadikan teladan. Bagaimana tidak, dengan uang Rp 100, terhitung 118 dari 290 unit rumah tak layak huni telah dibedah dalam kurun waktu 3,5 tahun saja. Hal ini berawal dari program rereongan sarumpi (iuran masyarakat secara gotong royong). ”Cukup uang seratus rupiah, warga kami mendapat tempat tinggal yang layak huni,” ucap Enduh.

Ide ini bermula saat Enduh melihat seorang nenek tua yang memilih diam di luar rumahnya saat hujan deras. Enduh pun mencari tahu mengapa nenek itu tidak masuk ke rumah. ”Ternyata rumah nenek itu bocor semua. Gentingnya sudah bolong, bahkan dinding rumahnya hanya terbuat dari gedhek,” terangnya.

Berawal dari rumah nenek inilah, Enduh berinisiatif membuat konsep rereongan sarumpi. Caranya, Enduh menginstruksikan kepada 14 ribu jiwa warganya untuk menyisihkan uang Rp 100 per hari. Dari lima ribu warga yang aktif urunan, satu bulannya terkumpul uang Rp 15 juta. Satu tahun jumlahnya, Rp 180 juta.

Enduh menginstruksikan warganya agar menyimpan uang recehan itu di tempat apa saja. Setiap bulan petugas akan menagih ke setiap rumah. Ternyata keinginan dan harapan Enduh tak berjalan mulus. Satu bulan pertama, Enduh hanya mendapat Rp 400 ribu. Tapi, dengan uang Rp 400 ribu, Enduh dapat ‘membedah’ tiga unit rumah. ”Jangan tanyakan tambahan uangnya dari mana ya. Alhamdulillah bisa membedah tiga unit rumah,” aku Enduh yang habis Rp 12 juta untuk membedah 3 unit rumah. Setelahnya, Enduh mendatangi satu persatu kepala keluarga di desanya untuk mendata sumbangan yang bisa diberikan. Walau bukan berupa uang, bahan bangunan yang sudah tak terpakai juga sangat membantu.

Adapun cara Enduh memilih rumah yang didahulukan untuk dibedah adalah dengan mendata semua rumah. Rumah yang paling tak layak dihuni itulah yang didahulukan. Tak hanya melihat dari luarnya saja, Enduh pun menelusuri kehidupan keseharian warganya.

Dari konsep ini, desa yang dipimpin Enduh mendapat penghargaan sebagai desa terbaik tingkat provinsi Jawa Barat (2009) serta 10 besar desa terbaik bidang pemberdayaan masyarakat (hasil uji petik Kementrian Perumahan Rakyat) tahun 2011.

Kesuksesan Enduh membangun desanya, menjadi agenda Kementrian Perumahan Rakyat. ”Semoga dengan konsep ini, seluruh masyarakat bisa merasakan manfaatnya. Uang yang nilainya sedikit bila dikumpulkan seluruh Indonesia pasti akan cukup untuk membangun negara,” tekadnya. Sebelum mengusung konsep ini, Enduh mengaku prihatin dengan kondisi rumah warganya yang tak layak huni. Tembok rumah terbuat dari gedhek (anyaman bambu), lantainya tanah, dan kalau turun hujan atap rumah bocor.

Konsep Lain
Selain rereongan sarumpi, Enduh punya program lain. Tabungan yang berasal dari raskin (beras rakyat miskin) digunakan untuk jaminan kesehatan warganya. Desa Situ Udik mendapat bagian 14 ton raskin setiap bulannya. Per kilonya dijual seharga Rp 2000. ”Memang seharusnya dijual Rp 1600 per kilogram. Karena ditambah biaya plastik dan biaya lainnya ditotalkan menjadi dua ribu,” terang Enduh.
Enduh mengaku memang tidak boleh menaikan harga raskin untuk masyarakat. Tapi Enduh punya alasan kuat untuk kesejahteraan warganya. Kelebihan dari harga itu digunakan untuk jaminan kesehatan masyarakat yang membutuhkan.

Selain itu, sebagai solusi untuk membayar PBB, Enduh mengharuskan setiap kepala keluarga untuk menanam dua pohon pisang di pekarangan rumahnya. Setelah berbuah, pisang itu dijual ke desa untuk membayar PBB selama setahun. ”Konsep ini baru berjalan tahun ini. Kami ingin warga Desa Situ Udik patuh membayar pajak,” ujarnya.

Setelah tiga konsep berjalan, Enduh juga ingin menggerakkan kelompok pemuda untuk menyisihkan sebatang rokok setiap harinya. Tetapi tawarannya belum berjalan karena kurangnya minat para pemuda untuk mencari dana dari sebatang rokok yang disisihkan.
Namun Enduh tak kehabisan ide untuk menggerakan pemuda di desanya. Dia semakin tertantang dan membuka lapangan pekerjaan bagi pemuda. Kerajinan perak, bambu, konveksi, dan keripik pisang menjadi pilihan produksi bagi para pemuda.

Sumber: nyata.co.id