Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Translate this page

Yohana Yembise, Profesor Wanita Papua Pertama

Yohana Susana Yembise, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cenderawasih Jayapura, Papua ternyata perempuan Papua pertama yang diberi gelar guru besar oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai profesor doktor bidang silabus desain dan material development.

Isteri dari Leo Danuwira ini lahir di Kota Buah-buahan  Manokwari, 01 Oktober 1958 ini dikukuhkan menjadi profesor doktor oleh Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Papua, Festus Simbiak, di Auditorium Uncen, Rabu (14/11) . Sebelum Yohana didaulat menjadi profesor, ia memiliki segudang pengalaman, jabatan dalam pekerjaan. Dosen perempuan Papua pertama bergelar profesor ini pertama menuntut ilmu di Sekolah Dasar (SD) Padang Bulan Jayapura, tahun 1971. Lalu, melanjutkan studinya di SMP Negeri 1 Nabire. Ia menyelesaikan pendidikan di sekolah tahun 1974. Pendidikan selanjutnya di bangku SMA Negeri Persiapan Nabire.

Setelah lulus sekolah, tahun 1985, Yohana melanjutkan pendidikan sarjana/undergrauduate/S1 (Dra) di program studi bahasa Inggris jurusan pendidikan bahasa dan seni FKIP Uncen. Semasa kuliah, dia bekerja sebagai asisten dosen di program studi yang digelutinya selama tiga tahun yakni sejak 1983-1986. Menjadi dosen tetap pada program studi itu sejak 1987 sampai sekarang. Selain dosen, pernah memegang jabatan sebagai kepala Laboratorium Bahasa Uncen setahun, yakni 1991.

Lompatan jabatan perempuan asli Papua ini boleh dibilang cepat. Tahun 1992 menjadi Diplomat Applied Linguistic TEFL (Dip. TEFL) dari Regional English Language Centre (RELC), SEAMEO Singapore. Meski sudah bekerja, ia tetap bertekad untuk melanjutkan pendidikan. Pada 1994 ia menyelesaikan pendidikan di Faculty of Education, Simom Fraser University British Colombia Canada dengan gelar Master of Art (MA).

Berbagai pengalaman semasa sekolah hingga menjajaki dunia kerja baik dalam negeri maupun luar negeri sudah dialami Yohana. Diantaranya, menjabat sebagai ketua tim seleksi guru bahasa inggrish SMP, SMK, SMA di kabupaten Merauke untuk persiapan pengiriman guru bahasa inggris ke Sunshine Coast University Australia.Pengalaman luar negeri diantaranya, pernah sebagai anggota Joint Selection Team (JST) Australian Development Scholarship beasiswa ADS/USAID tahun 2011.

Segudang pengalaman organisasi juga dialami Yembise. Beberapa pengalaman organisasinya diantaranya terlibat dalam kegiatan kesenian yang disponsori badan kesenian Daerah Kabupaten Paniai di Nabire sejak 1974-1978. Pernah menjadi wakil ketua KNPI Kabupaten Paniai tahun 1984. Dari sejumlah pengalaman dan pekerjaan yang dialami, perempuan Biak ini menerima ratusan penghargaan dari berbagai pihak. Salah satu diantaranya adalah menerima surat tanda penghargaan pernyataan lulus seleksi sebagai mahasiswa teladan sejak 1981-1982 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Bukan hanya itu sejak masih kuliah termasuk salah satu peserta pertukarang pemuda antara Indonesia dan Canada. Yohana Yembise juga terpilih mewakili Papua bersama pemuda Indonesia ke Canada.

Menjadi Wanita Pertama Papua Bergelar Guru Besar.
Dia membuktikan bahwa perempuan Papua bisa berprestasi di bidang akademik. Buktinya dia telah dinobatkan sebagai guru besar Universitas Cendrawasih, Jayapura. Jadilah dia perempuan pertama Papua yang berhasil meraih gelar profesor.

Tanggal 13 November 2012 menjadi hari bersejarah bagi Prof Dr Johana Jambise MA. Saat itu karir dia di dunia akademik mencapai puncaknya. Gelar profesor kini tersemat di depan namanya. Dia mengaku sangat bangga menjadi perempuan pertama Papua yang meraih gelar guru besar. Meski begitu, gelar tersebut harus diraihnya dengan jalan berliku.

Menurut beliau, masalah terberat yang harus dilalui adalah memuat karya ilmiah di jurnal internasional. Sebab, berkali-kali dia mengirim tulisan ke jurnal internasional, tapi selalu ditolak.
Beberapa kali tulisan yang dia kirim dikembalikan. Pihak dewan redaksi meminta tulisan direvisi agar memenuhi standar internasional dan bisa diterima publik internasional.

“Itu yang membuat saya mengalami kendala beberapa kali penundaan untuk meraih guru besar karena harus merevisi jurnal-jurnal ini,” kata Johana di kampus Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura. “Untuk mendapatkan jurnal internasioanal sangat susah. Karena itu, kebayakan calon guru besar lari ke akreditasi pendidikan tinggi yang ada Jakarta jika tidak berhasil meraih akreditasi internasional,” sambung ketua Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Uncen tersebut.

Johana mengaku, setelah berjuang delapan bulan, baru empat jurnal yang dihasilkannya bisa diterima publik internasional. Beruntung, empat jurnal itu masing-masing akhirnya mempunyai nilai 40. Hal ini yang membuat dia dengan mudah mengumpulkan nilai 850 sebagai syarat memperoleh gelar guru besar.

Setelah nilai 850 diraih, bukan berarti langkah menggapai gelar profesor berjalan mulus. Saat pertama mengajukan ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, permohonannya tak langsung ditanggapi. Dia membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk menunggu lampu hijau dari Ditjen Dikti. “Permohonan tidak serta merta langsung dijawab. Kami butuh waktu lama. Ini bukan hal yang gampang,” kata Johana.

Bagi Johana, gelar guru besar merupakan cita-cita terakahirnya di dunia akademik. Setelah itu, dia tidak punya keinginan lain selain memajukan Uncen, almamater yang telah membesarkannya.

Dalam orasi ilmiah saat pengukuhan gelar profesornya, dia mengangkat tema tentang penerapan pengajaran bahasa Inggris yang salah di sekolah. Hal itu membuat siswa sulit menguasai bahasa internasional tersebut.

Dia juga mengaku kurang sreg dengan isi Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa kedua setelah bahasa Indonesia.

“Sangat susah karena di sekolah ngomong bahasa Inggris campur bahasa Indonesia, kemudian pulang ke rumah ngomong juga pakai bahasa Indonesia. Jadi, sangat susah mengubahnya. Untuk mengubahnya, perlu konsep tersendiri atau konsep khusus,” ungkap Johana.

Sumber : tabloidjubi.com, sumeks.co.id