Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Translate this page

Tangan Endang Kurniawan Seperti Punya Mata

Meski mengalami keterbatasan dalam penglihatannya, Endang (27) sangat cekatan menyambung kabel dan menyolder peralatan elektronik yang diservisnya. Dia dikenal sebagai tukang servis barang elektronik di kampungnya. Berbagai barang elektronik seperti radio, kipas angin, setrika, tape deck, serta handphone rusak mampu diperbaikinya. Untuk kerusakan ringan, ia bisa menyelesaikan hanya dalam tempo 1-2 hari.

Ia tinggal bersama ibunya, Iros (70), kakak-kakaknya, beserta keponakannya dalam sebuah rumah panggung sederhana yang temboknya terbuat dari anyaman bambu. Dalam kesederhanaannya, Endang selalu bahagia.

Tangan Endang sangat terampil dan cekatan merangkai komponen, menyorder, serta menyambung kabel-kabel kecil satu dengan yang lain. Yang menakjubkan, Endang sama sekali tak membuat kesalahan. Ia seperti tahu persis letak kabel atau posisi komponen yang hendak dipasang. Endang pun juga merekayasa sendiri berbagai alat untuk mempermudah pekerjaannya.
Bila tukang servis normal membutuhkan pencahayaan ekstra untuk mempelototi komponen-komponen elektronik, hal itu tidak berlaku bagi Endang. ”Pakai lampu atau tidak sama saja, sama-sama gelap. Soalnya saya tidak bisa melihat apa-apa,” kata bungsu dari empat bersaudara itu.

Menurut Endang, untuk radio yang rusak rata-rata problemnya adalah kabel yang putus atau terjadi korsleting. ”Kalau cuma itu, tinggal disambung atau ganti komponen. Beres deh,” ujarnya santai.
Tapi bila kerusakannya agak rumit, Endang terpaksa membawanya ke toko listrik untuk diperiksa. Setelah mendapat penjelasan tentang kerusakannya, baru dia mengerjakannya sendiri. Tak terhitung berapa kali Endang kena setrum atau jemarinya terbakar solder panas. Meski demikian, ia tidak kapok. ”Sudah biasa, namanya juga tukang servis. Kena solder atau kesetrum mah wajar aja atuh,” cetusnya enteng.

Nyaris Terbakar
Menurut sang ibu, Iros, ketika lahir hingga berusia 6 tahun, kondisi penglihatan Endang masih normal. Baru setelah itu penglihatannya mulai kabur. Pelan tapi pasti, ia tak mampu melihat benda-benda di hadapannya. ”Emak gak punya uang. Dulu dokter jauh dari kampung. Jadi Endang hanya dibawa ke tabib, diobati dengan daun-daunan,” cerita Iros.

Ketika pandangannya benar-benar gelap, Endang yang saat itu duduk di bangku SD memutuskan tidak lagi bersekolah. Hari-harinya dilalui dengan mengurung diri dalam kamar ditemani sebuah radio usang sebagai satu-satunya hiburan. ”Tapi ketika radio itu rusak, saya sangat terpukul. Saya mencoba memperbaiki dengan alat seadanya, pakai gunting atau kawat,” tutur Endang.
Bukannya jadi baik, radio itu tambah rusak. Bahkan, radio itu nyaris terbakar karena saat memperbaikinya Endang tidak menggunakan solder, melainkan membakarnya dengan api. Tak tega melihat radio anaknya rusak, Iros lantas membelikan radio baru.

Rupanya Endang masih penasaran dengan radionya yang rusak. Ia lantas membongkar radio barunya dan mencoba mencari tahu kenapa radio lamanya rusak. Iip, salah seorang tetangga yang membuka servis elektronik, merasa iba dengan nasib Endang. Sejak itu Endang diajak membantu pekerjaannya atau belanja alat-alat listrik.

Berkat ilmu yang diperoleh dari Iip, Endang tak cuma pandai menyervis peralatan elektronik, tapi juga bisa membuat speaker active. Suara yang dihasilkan oleh speaker buatan Endang juga sangat memuaskan.

Bekerja Demi Ibu
Satu hal yang membuat Endang begitu bersemangat mencari nafkah sendiri adalah akhir-akhir ini ibunya mulai sakit-sakitan. ”Yang saya tahu, Endang bekerja juga untuk mengobatkan ibunya. Dia memang anak yang berbakti,” komentar Yana Sofyana, Kepala Desa Cikandang.

Jika order servis elektronik sepi, Endang memanfaatkan waktunya untuk membuat layangan. ”Kalau lagi musim, saya sampai kewalahan melayani pesanan layangan,” aku Endang.
Kualitas layangannya juga teruji. ”Selain desainnya bagus, layangannya itu seimbang sehingga mudah diterbangkan,” tambah Yana.

Selain itu, sudah sepuluh bulan ini Endang bergabung dengan Yayasan Wyata Guna Bandung, yang menampung para tunanetra untuk mendapatkan pendidikan dan keterampilan. ”Di situ, saya belajar membaca huruf braille,” ungkap Endang senang. (sumber: nyata.co.id)