Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Translate this page

Uswatun Hasanah, Dari Belajar Sendiri Kini Mengajari Tetangga

Bukan sekadar warisan, sejak kecil Uswatun Hasanah tergelitik membuat kain tenun batik sendiri. Cita-cita terwujud, bahkan mampu melestarikan batik khas Tuban lewat usaha batik 'Sekar Ayu’.

Bisnis itu sudah berumur sembilan tahun. Pada 1993, Uswatun belajar menggambar desain hingga membuat sendiri batik gedog. Inspirasi datang dari neneknya. "Kami punya satu lemari kain tenun yang diwariskan," tuturnya kepada Surya.

Setelah mampu mandiri, ia berani melibatkan keluarga dan tetangga. Uswatun Hasanah mengajari anak-anak muda membuat dan memproduksi batik gedog secara sukarela. Bersama adiknya, usaha batik mulai jalan. Bersama sang adik, Uswatun Hasanah ikut sejumlah pelatihan. Usaha rumah itu menapak sedikit menyusul kucuran modal Rp 25 juta.

 "Awalnya, kami bikin kaus bermotif batik, lalu kain tenun gedog, selendang tenun dan taplak meja," terang Uswatun Hasanah. Secara perlahan, tenun batik gedog dari Desa Kedung Rejo, Kecamatan Kerek, Tuban ini merambah pasar lebih luas. Label 'Sekar Ayu' mulai melekat di hati para penggemarnya.

Suntikan modal Rp 150 juta dari Semen Gresik membuat usaha batik Uswatun Hasanah tancap gas, melaju lebih cepat. Produknya ikut pameran ke berbagai kota, seperti Surabaya,  Jogja, Jakarta, Bali hingga ke Batam. Pesanan mengalir. Produksi Sekar Ayun meningkat hingga 300 sampai 400 potong per minggu, dengan harga mulai Rp 40.000 (untuk kaus) hingga Rp 100 juta (tenun gedog).

"Banyak anak dan ibu-ibu sekitar rumah yang bekerja lepas di sini. Kami bolehkan dikerjakan di rumah mereka," ungkap Uswatun Hasanah.

Kini, dirinya menikmati hasil kerja kerasnya. Bukan hanya pribadi sukses, bisnis Uswatun Hasanah mendatangkan rezeki bagi lingkungan sekitarnya. Target melestarikan batik dan tenun gedog juga terwujud.

“Kami bisa buat 40 motif kuno dan sekarang ada 200-an motif pengembangan,” tambah ibu satu anak ini.

Akses Surabaya.Tribunnews.com