Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Translate this page

Rela Berburu Kulit Ular dan Buaya

Selain batik, Rina Widijanti
mulai memadukan produknya
dengan tenun dan songket
Batik tidak saja menegaskan identitas budaya bangsa tapi sekarang menjadi kebanggaan bagi pemakainya. Ini juga yang dirasakan perajin sepatu dan tas batik tulis Nira Batik, Anastasia Rina Widijanti.

Sebelum memproduksi tas dan sepatu batik sendiri, perempuan usia 47 tahun ini, gemar mengoleksi tas dan sepatu branded seperti Gucci, Louis Vuittion hingga Hermes. Sesudah punya tas dan sepatu handmade batik sendiri, kebanggaannya makin tebal ketimbang yang branded itu.

"Saya telah memuseumkan produk-produk bermerek itu, atau ada yang saya berikan kepada saudara," tuturnya kepada Surya.

Dari pengalaman Rina Widijanti, membangun usaha dari hobi, lebih mudah. Tapi bukan berarti tidak ada tantangan. Namanya hobi biasanya, awalnya rela mengeluarkan ongkos berapapun. Sayangnya, ada faktor lain dalam membangun usaha, yang rumit dan perlu diperhitungkan.

Misalnya, mendapatkan bahan baku yang murah agar menghasilkan produk jadi yang kompetitif atau jalur pemasaran yang  berbelit-belit. Apalagi sejak awal, misinya adalah membangun brand dengan produk yang eksklusif, maka mulai bahan baku harus selektif.

"Saya rela-relain berburu kulit buaya dan kulit ular untuk paduan batiknya. Itu tidak gampang. Suplier saya harus punya sertifikat bahwa kulit itu bukan hasil hewan perburuan tapi dari bangkai yang berkualitas," jelasnya.

Harga kulit buaya mentah paling murah Rp 4 juta/ekor. Itupun masih harus melalui proses bleaching (membuat warna kulitnya terlihat cerah) berkali-kali. Lalu,  kulit ular kobra Rp 50.000/lembar, dengan ukuran 20 cm x 100cm, harga kulit ular piton lebih mahal lagi, Rp 230.000 per meter dengan lebar 25 cm, harga kulit sapi Rp 13.000 per feet.

Untuk kebutuhan bahan baku sudah 'menguras' anggaran, belum lem, aksesori tambahan, batik tulisnya sendiri dan ongkos tukang jahit. Karena itu, wajar, jika Rina memantok batik tulis lawasan hingga Rp 20 juta/lembar. Harga tas dan sepatu disesuaikan jenis batik dan pilihan motifnya serta kulit yang dipilih.

"Kalau batik tulis dengan motifnya tanda tangan atau cap dari si pembatik dan pada bagian itu dipakai untuk bagian depan tas, tentu jatuhnya harga lebih mahal," urainya.

Selain batik, Rina kini mulai memadupadankan produknya dengan tenun dan songket. Ia juga aktif membina para pembatik kuno di pelosok, termasuk di Trenggalek, serta mengajar ekstrakulikuler batik di SMAN 8 tempat ia menempuh pendidikan dulu.

Sumber : Tribunnews.com