Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Translate this page

Bangkit Setelah Sempat Merumahkan Para Karyawan

Meraup sukses dari usaha batik dan tenun gedog bukanlah hal mudah. Dimulai dari titik nol, bahkan Sekar Ayu (trade mark) sempat bangkrut karena dampak bom Bali. Hanya kegigihan yang akhirnya membangkitkan kembali, termasuk mempertebal omzet hingga ratusan juta per bulan.

Bom Bali tahun 2005 secara nyata memukul banyak pengusaha lokal, termasuk Uswatun Hasanah yang bisnisnya mulai bersinar. Ia harus merelakan ratusan produk yang didistribusikan melalui Bali telantar.

Dua tahun kemudian, saya bangkrut. Bali termasuk pasar utama. Wisata di Bali lumpuh, tidak ada yang membayar. Uswatun Hasanah mendatangi langsung para pedagang, dan memang, tidak dapat berbuat apa-apa. "Bisa dibilang uang kami tidak kembali," tuturnya, kepada Surya.

Kurang lebih, 40 persen penjualan produk di kirim ke Pulau Dewata. Sisanya, 40 persen terserap di sekitar Tuban sendiri, 10 persen merupakan pasar beragam, termasuk ke luar negeri.

Satu keputusan berat diambil. Ibu satu anak ini terpaksa merumahkan para karyawan. Dengan kegigihan, ia mulai menebus pasar yang hilang. Angin segar berhembus, karena Semen Gresik, berani mendukungnya.

Uswatun Hasanah menghubungi perusahaan semen itu dan menjelaskan apa-adanya. “Alhamdulillah, saya mendapat uluran tangan untuk bangkit lagi. Saya kembali tertantang," ujarnya bersemangat.

Bantuan modal tambahan  menjadi dukungan yang menolong Uswatun Hasanah dan keluarganya, berikut warga sekitar rumahnya untuk berkarya kembali. Dalam waktu singkat, bisnis rumahan ini berhasil menggaet pelanggan dan perputaran uang perlahan menuju seperti semula.

Batik dan tenun gedog khas Tuban yang jadi trade mark Sekar Ayu bukan hanya laris di kawasan lokal. Produk itu punya pelanggan tersendiri di luar negeri. “Ada yayasan di Australia yang biasa memesan produk. Kami, juga berhubungan dengan pelanggan dari Belanda,” papar Uswatun.

Kalau pada awal, Uswatun Hasanah dan adiknya membuat 20 potong kaus untuk dititipkan ke distrubutor, kini mereka memiliki jumlah produksi tinggi. Banyak warga, mulai siswa SD hingga ibu rumah tangga memperoleh penghasilan tambahan dengan turut bekerja sambilan di Sekar Ayu.

Berkat perjuangannya, sederet penghargaan diraih perempuan muda yang energik ini. Salah satunya, Upakarti yang diterimakan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kebangkrutan Sekar Ayu di tahun 2007 membuat Uswatun Hasanah menjadi lebih kuat meniti usaha. Kini, bisnisnya mampu membukukan omzet Rp 200 juta per bulan atau Rp 2,4 miliar per tahun.

Surabaya.Tribunnews.com