Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Translate this page

Anut Filosofi Usaha, Tekun, Teken, dan Tekan

Basuki Wiyono saat mengajar di BMB Airlangga
Bangil adalah persinggahan sementara. Meski banyak relasi, justru pada 2010, terjadi pecah kongsi karena beda pandangan. Basuki Wiyono keluar dari Erlangga dengan membawa uang Rp 65 juta.

Saat ini, bisnis BMB Airlangga sudah semakin mapan, bahkan terus ekspansi ke sejumlah tempat. Di kota Probolinggo, yang menjadi cikal bakal, Basuki Wiyono menyewa rumah besar di Jl DI Panjaitan, dari awal Rp 22 juta setiap tahun dan sekarang sudah Rp 50 juta.

Sejak merintis hingga sekarang, pria yang pernah seliweran mengamen di Jl Malioboro selama setahun itu, memperluas usahanya. Ada empat strategi untuk memperkokoh merek bisnisnya, yakni sistem Sirkah, franchise (waralaba), revenue sharing (bagi hasil) dan membuka cabang baru secara internal atau pribadi.

Selain mengurusi usahanya, kadangkala Basuki Wiyono diundang untuk memberi materi motivasi di berbagai lembaga, terutama di lembaga pendidikan. "Bimbel di luar Airlangga bukan pesaing, mereka mitra bisnis," tandasnya.

Pesaing utama yang harus diperangi adalah dalam diri pribadi (pengusaha) sendiri seperti rasa malas dan berprasangka buruk terhadap orang lain. Jika seseorang mampu membuang sifat buruk seperti itu, maka sukses akan mudah diraih. Yang penting kita mau berubah, Fokus, punya tujuan dan doa.

Bagi Basuki Wiyono, teori sukses laiknya segitiga sama sisi. Sisi yang mendatar adalah attitude (sikap), tentunya sikap yang baik. Sisi sebelah kiri yang vertikal menuju ke atas, merupakan pengetahuan (knowledge) dan sisi yang sebelah kanan, keterampilan (skill).

Di akhir ngobrolnya, pria yang membiayai sendiri kuliah di jurusan IPS ini menyitir filosofi orang Jawa, tekun, teken (tongkat) dan  tekan (sampai). Yang artinya, siapapun menekuni sesuatu, kendati berjalan dengan memakai perantara tongkat, maka akan sampai juga. “Itu prinsip yang kami pegang,” kata Basuki Wiyono.

Sumber : Tribunnews.com