Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Translate this page

Bashaer Othman: Walikota Termuda Palestina (2)

Bagaimana kehidupan Anda saat menjadi seorang remaja berusia 16 tahun? Mungkin Anda akan memilih untuk melirik lawan jenis, dan have fun bersama teman-teman sebaya. Mungkin juga memikirkan sekolah, tetapi yang memikirkan nasib sebuah kota, jelas langka. Berbagai kesibukan sebagai walikota plus pelajar dilakoni Bashaer dengan semangat.


Dia tak pernah mengeluh sekalipun mungkin dia sedikit kehilangan masa bermainnya bersama teman-teman. Namun, Bashaer menepis bahwa dia sudah kehilangan masa remajanya. Baginya, di usia ke-16, itu berarti dia sudah cukup dewasa untuk memikirkan masa depan. Hidup telah memberinya kesempatan berharga dengan menjadi seorang walikota. namun, dia dengan tegas menyatakan bahwa keberanian dalam mengambil keputusan juga salah satu kuncinya. Semua sudah tahu, jika dia memang ’mencalonkan diri’ agar bisa menggantikan posisi walikota yang diisi oleh Sufian Shadid.

”Setiap pemuda di dunia harus mandiri dan mencari keberuntungan sendiri tanpa menunggu adanya kesempatan yang datang. Mereka harus mencari jati diri mereka sendiri dan mereka harus berjuang keras,” tegasnya.

Menjadi seorang walikota, mungkin jika dibayangkan tentu akan sangat membebanimu Bashaer. Tapi, dia pun ternyata mampu menjalaninya dengan seimbang. Melelahkan memang, apalagi setiap hari dia harus menghadapi setumpuk dokumen-dokumen yang tidak bisa begitu saja dia tanda tangani. Dia harus membacanya dan memastikan bahwa keputusan yang diambilnya adalah yang terbaik.

Belum lagi jika banyak anggapan miring terhadap kinerjanya. Maklum, dia seorang perempuan dan masih sangat muda. Tapi justru tantangan-tantangan inilah yang memacu semangatnya untuk bisa memberikan yang terbaik bagi penduduk. Tantangan-tantangan inilah yang akhirnya memberikan pemikiran brilian. Inilah yang membuatnya tidak merasa kehilangan masa remaja.

”Saya harus mengambil keputusan setiap hari, menandatangani dokumen-dokumen penting yang jelas mempengaruhi masa depan kehidupan penduduk kota. Apalagi saya juga harus keluar kantor dan bertemu rakyat. Banyak orang-orang tidak percaya pada saya karena saya adalah seorang wanita dan mereka mengetahui bahwa walikota yang asli adalah laki-laki. Saya di usia yang muda ini juga seorang wanita dianggap tidak mampu. Hal-hal semacam inilah yang membuat saya semakin tertantang untuk membuktikan bahwa seorang pemuda itu memiliki kapasitas memimpin jika ada kesempatan. Saya mampu menjadi role model, itu salah satu prestasi sekaligus pengalaman terbaik saya,” ceritanya.

Baginya, memikirkan masa depan kota jauh lebih openting daripada apapun. Ini terkait dengan impiannya agar Palestina berhasil memiliki kemerdekaan yang utuh. Kemerdekaan itu tentunya harus diperjuangkan, dan sebagai generasi muda, dia merasa memiliki tanggung jawab. Inilah jalan yang dipilihnya untuk menghabiskan masa-masa SMA-nya. Apalagi, kehidupan di Palestina yang penuh konflik membuat pemuda harus bisa lebih berpikir dewasa.

”Yang dipikirkan saat ini adalah bagaimana membentuk karakter pemuda menjadi seorang pemimpin. Tidak hanya berlaku bagi laki-laki, tetapi seorang perempuan juga harus memikirkan hal semacam itu,” jawab Bashaer.

Bahkan, dengan lugas Bashaer menerangkan bahwa kehidupan pribadinya tak jauh-jauh dari mengejar karir di dunia diplomatik. Bagaimana dengan pacar? ”Saya tidak memikirkan pacaran untuk saat ini. Saya juga belum memilikinya, saya Tapi ternyata, saya bisa menjalaninya dan proyek-proyek yang kami jalankan sukses. Saya ingin terus mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan hubungan internasional. Saya ingin mengejar cita-cita dan karir dulu,” jelasnya.

Kedudukannya sebagai walikota pun akhirnya mampu membungkam mulut orang-orang yang pernah meragukan kemampuannya. Bahkan, dia justru menjadi sumber inspirasi, khususnya bagi perempuan. ”Saya bersyukur, mereka (rakyat) akhirnya merasa bangga bahkan menginginkan program ini untuk terus berjalan. Orang akan mendukung jika memang berhasil meraih sukses. Bagi saya, ini adalah pengalaman berharga sekaligus terbaik bagi kehidupan saya,” ucapnya.

Penghargaan The Worlds Youngest Mayor Award

Kiprah suksesnya di dunia pemerintahan tak ayal membuat dirinya semakin dikenal dunia. Sorotan dunia terhadap keberhasilannya di usia yang amat muda benar-benar memberi semacam energi positif khususnya bagi pemuda. Banyak sekali pemuda cerdas dan kritis tapi justru dipandang sebelah mata. Melalui Bashaer, diharapkan dapat meningkatkan semangat para pemuda dunia.

Prestasinya yang luar biasa inilah yang akhirnya membuat dirinya diundang ke Indonesia oleh World Peace Movement, bekerjasama dengan Royal World Records dan tentunya Kedubes Palestina. Bashaer sudah tiba di Indonesia sejak Senin (10/9) lalu dan akan kembali ke negaranya pada Sabtu (15/9). Selama berada di Jakarta, Bashaer melakukan sederet kegiatan yang sangat padat. Mulai dari kunjungan ke DPR, beberapa sekolah non formal dan lembaga pendidikan, memberikan kuliah umum di Universitas Al Azhar, hingga melayani deretan wawancara dengan media. Satu yang membanggakan bagi dirinya, menerima penghargaan The Worlds Youngest Mayor Award dari Royal World Records.

Dalam pemberian penghargaan itu, hadir sejumlah tokoh, salah satunya Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Turut hadir pula perwakilan dari Royal World Records, Ron Mullers dan Direktur Pasaraya, Medina L Harjani. Tak ketinggalan, founder Pasaraya, Abdul Lathief dan Sofia Koswara, Chairwoman World Peace Movement.

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas apa yang dilakukan oleh Palestina dan khususnya keberhasilan Bashaer dalam ‘membangun’ kota Allar selama kurun waktu dua bulan. Bashaer, sebagai sumber inspirasi dan memeberi pesan perdamaian untuk dunia. Mengapa? ”Apa yang dia kerjakan akan menginspirasi anak-anak muda Palestina dan di dunia, khususnya di Indonesia ini,” kata Ron.

Bashaer yang menerima penghargaan itu hanya bisa tersenyum bangga. Dia benar-benar tidak mengira akan mendapat apresiasi semacam ini dari Indonesia. Dia pun menjelaskan, bahwa kedatangannya ke Indonesia bukan hanya karena ingin menerima penghargaan belaka. Di saat bersamaan, Bashaer sebenarnya juga mendapat undangan dari Italia.

Nama Indonesia di matanya adalah negara yang selalu memberikan dukungan moril dan materiil untuk negaranya, Palestina. Belum lagi mayoritas penduduk Indonesia yang beragama islam menjadi pertimbangan tersendiri bagi dirinya. ”Saya lebih memilih datang ke Indonesia ketimbang ke Italia. Indonesia selalu memberikan dukungan dan bantuan untuk Palestina. Tidak hanya itu, banyaknya demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan pemuda Indonesia itu, sudah menjadi berita keseharian di kalangan pemuda Palestina. Jadi seperti ada ikatan batin dengan Indonesia,” katanya.

Bashaer dalam pernyataannya juga tak lupa mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang diterimanya. Tidak hanya itu, dengan tegas dia memberikan pesan-pesan positif sekaligus semangat agar para pemuda tidak pantang menyerah dan bisa terus meraih cita-cita. Bashaer ingin, semakin banyak lagi anak muda yang bisa seperti dirinya dan diberi kesempatan emas seperti yang dia terima.

”Alla itu sebuah kota kecil, tidak seperti Jakarta. Saya merasa sangat bangga bisa berada disini. Saya berterima kasih atas apresiasi yang diberikan kepada saya. Prestasi saya ini bukan apa-apa jika tidak dilanjutkan dengan tindakan pemuda lainnya. Yang harus diingat adalah, orang-orang yang bisa menginspirasi kita bukan hanya mereka para bintang besar ternama. Bisa jadi orang-orang seperti kita ini. Jadi, ini semua sebenarnya tergantung dari hati kita apakah kita bisa mewujudkan semua itu dari keyakinan terdalam dan ketulusan hati,” bebernya.

Dia pun tak lupa memberikan sebuah pesan perdamaian yang menyentuh hati. ”Seperti anda di Indonesia yang selalu mendukung kami untuk meraih perdamaian.Kami sangat haus dengan damai itu. Kami merindukan mempunyai hari kemerdekaan seperti halnya Indonesia yang selama 300 tahun berjuang untuk mendapatkan kemerdekaannya. Satu hal yang saya yakini, bagaimana anda bisa memberikan suatu kedamaian jika anda tidak bisa berdamai dengan diri sendiri. Membangun sebuah perdamaian haruslah datang dari diri sendiri, kemudian mempengaruhi orang-orang di sekitar anda, dan lingkungan anda lebih luas lagi,” jelasnya.


(Sumber : http://nyata.co.id)