Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Translate this page

Bashaer Othman, Walikota Termuda Palestina (1)

Bashaer Othman, Walikota Termuda Palestina

Seorang gadis mungil nan cantik tengah berjalan santai. Garis wajahnya yang tegas menunjukkan bahwa gadis ini seorang yang cerdas. Wajahnya cantik, dibalut dengan jeans dan kemeja biru. Tak ketinggalan dengan boots yang membuatnya terlihat modis. Riasan smokey eyes membuat kedua mata indahnya semakin menonjol.


Gadis mungil ini tidak banyak bicara, dia juga hanya sesekali menyunggingkan senyumnya kepada orang-orang yang mengajaknya bersalaman. Kemandiriannya sebagai seorang wanita terpancar dari tindak tanduknya. Dialah Bashaer Othman, gadis mungil asa Palestina yang juga walikota perempuan termuda se-dunia.

Bagaimana mungkin seorang gadis berusia 16 tahun mampu menjadi seorang walikota? Itulah jalan hidup yang dilalui oleh Bashaer Othman. Pada tanggal 2 juli 2012 – 21 September 2012 dia diberi tanggung jawab di bawah pengawasan Walikota Sufian Shadid.

Allar, sebuah kota berpenduduk 8000 jiwa yang terletak di tepi barat Palestina adalah tempat di mana Bashaer dilahirkan 16 tahun yang lalu. Dia hanyalah seorang anak petani, namun kecerdasannya sangat menonjol. Dia pun akhirnya mendapat kesempatan untuk mengenyam Yesark Youth Program (YYP) yang memang dilaksanakan di seluruh Palestina. Program ini memberi kesempatan kepada anak-anak muda Palestina untuk terlibat dalam kegiatan sehari-hari pemerintah lokal di Palestina. Nah, inilah yang membuat Bashaer akhirnya dilantik untuk menjadi seorang walikota.

Ceritanya, saat menjalani program itu, Bashaer pun menantang sang walikota agar dia diberikan izin untuk menggantikan tugas-tugasnya. Benar-benar sebuah kepemimpinan yang demokratis, dan Bashaer akhirnya diberi kesempatan untuk menjalani sekaligus menaklukkan tantangan itu.

Sang walikota, Sufian Shadid melihat Bashaer sebagai seseorang yang tegas dan memiliki kharisma. Dia melihat aura kepemimpinan di mata gadis yang lahir di tahun 1996 itu. Pola pikir Bashaer yang kritis dan bagaimana dia memiliki prinsip kuat membuatnya akhirnya menyetujui dan memberi kesempatan untuk ’menggantikan’ kepemimpinannya. Peran Bashaer diharapkan dapat menjadi cerminan untuk pemuda agar bisa menjadi bagian dari sistem politik di masa depan.

Hanya satu minggu, waktu yang dia minta untuk menggantikan posisi walikota. Namun, setelah melihat kinerjanya, dia pun akhirnya mendapat kesempatan lebih lama untuk ’menggantikan’ sang walikota.

Hebat? jelas, apalagi melihat usia Bashaer yang masih sangat muda. Dirinya saja masih duduk di tingkat 11 (setara dengan kelas II SMA). Rupanya, sepak terjangnya di dunia organisasi membuatnya mengenal dunia politik. Dua tahun lalu, dia terpilih sebagai ketua Dewan Pemuda, dan kesempatan ini membuatnya bertemu dengan para pejabat politik.

”Saya terinspirasi untuk terjun ke dunia politik sejak dua tahun yang lalu. Saat itu, saya terpilih sebagai ketua dewan pemuda dan dari situ saya bertemu dengan para pejabat politik. Sejak itu saya mulai menemukan passion di dunia politik,” ucap Bashaer saat ditemui di Pasaraya Blok M pada Kamis sore (13/9) lalu.

Setiap pagi, Bashaer memiliki wewenang untuk menandatangani dokumen-dokumen, memimpin rapat, mengambil keputusan dan sampai batas tertentu memiliki kewenangan keuangan. Ini adalah bagian dari percobaan yang bertujuan untuk memberdayakan kaum muda. ”Saya akhirnya bisa menjalin sebuah network dan bagi saya membangun kota adalah seni untuk semua kalangan,” jelasnya.

Mengkritisi Pengangguran

Selama dua bulan, sang walikota, Sufian Shadid, dan timnya dari anggota dewan telah menyerahkan kekuasaan kepada sekelompok remaja, dibwah pimpinan Bashaer. Para pejabat pemerintahan yang terpilih dari sistem kuota ini hanyalah memberikan nasihat dan menawarkan bimbingan, tetapi semua keputusan terletak di tangan mereka.

”Pada awalnya, orang-orang meragukan karena usia kita,” kata Bashaer. ”Tapi kemudian mereka melihat kami bekerja, dan akhirnya mereka tahu bahwa kami tangguh dan berdedikasi. Sekarang, mereka malah menghormati kami,” imbuhnya.

Sebuah perubahan kepemimpinan di musim panas, dimana Allar dipimpin oleh seorang gadis muda. Lima orang perempuan dan enam orang laki-laki bekerjasama untuk menciptakan sebuah perubahan positif untuk pembangunan kota. Walaupun hanya dua bulan, kinerja mereka mendapat sorotan dunia. Apalagi sang pemimpin yang seorang perempuan.

”Saya jelas mendapat banyak tantangan untuk mengemban tugas ini. Saya hanya berusaha untuk memberikan gambaran bahwa hampir di setiap kota di Palestina yang menuntut untuk perubahan kepemimpinan itu sudah banyak. Saya mencoba meyakinkan walikota, bagaimana kalau kita memulainya di kota ini. Kalau ini berhasil maka ini bisa dicatat sebagai sebuah keberhasilan yang luar biasa,” bebernya.

Bashaer tidak hanya mengedepankan ambisi pribadinya saja, tetapi secara mengejutkan, dia berhasil mengendalikan kontrol pemerintahan dengan baik. Isu-isu yang selama ini tidak begitu diperhatikan menjadi beberapa fokus pemerintahannya.

Suara Bashaer akhirnya terbukti dengan didirikannya sebuah departemen pemadam kebakaran setempat. Tak hanya itu, dia juga mencetuskan pembangunan taman kota, yang tentu saja dilengkapi dengan taman bermain anak-anak di dalamnya. Dia juga menjadi perwakilan untuk sebuah dionas perjalanan ke Qatar.

Satu isu lokal yang menjadi fokus kepemimpinannya adalah pengangguran. Dia tak menginginkan anak muda yang seharusnya memiliki cita-cita, bakat dan impian harus menganggur hanya karena kurangnya lapangan pekerjaan. ”Jika saya bisa mencapai satu hal, tentu saja hal itu adalah menciptakan sebuah proyek dengan lapangan pekerjaan  untuk para pemuda sebanyak mungkin,” jelasnya.

Mengapa pengangguran? rupanya, bungsu dari tujuh bersaudara ini sangat memperhatikan apa yang terjadi di negaranya. Dia melihat banyak sekali orang Allar yang harus melintasi Jalur Hijau (masuk Israel dengan jalur ilegal) hanya untuk bekerja. ”Alih-alih mereka akan bekerja sebagai buruh murah di Israel, lebih baik kita menciptakan lapangan kerja di sini,” tegasnya.

Isu kesetaraan gender juga menyeruak dalam masa kepemimpinannya. Dia ingin, apa yang sudah dilakukannya untuk kota bisa mendorong lebih banyak perempuan untuk  berani menyuarakan aspirasinya. Apalagi jika mereka bisa terlibat aktif dalam kehidupan publik, itu menurutnya lebih bagus.

Kuliah Hukum

Sebagai seorang remaja yang masih mengenyam pendidikan, banyak rencana Bashaer ke depannya usai menjabat sebagai walikota. Tentu saja pengalamannya sebagai walikota memberinya banyak pelajaran, terutama dalam urusan politik. Dia pun berencana ingin segera menyelesaikan pendidikannya di SMA dan melanjutkan ke jurusan hukum

”Saya mendapat banyak sekali pengalaman selama memimpin di Allar. Dengan banyaknya pengalaman yang saya dapatkan itu memberikan saya lebih banyak motivasi ke depannya. Saya jadi semakin terinspirasi untuk lebih mempelajari hukum dan hubungan internasional,” jelasnya.

Cita-cita sebagai seorang pejabat diplomatk juga sudah diembannya. Sekalipun tak ada satupun keluarganya yang terjun di dunia politik atau hukum, namun dukungan dari seluaruh anggota keluarganya telah dia kantongi. Apalagi, dia juga sudah membanggakan keluarganya di usia yang sangat muda.

”Tidak ada satupun di keluarga yang terjun di dunia politik. Ayah saya hanyalah seorang petani dan kakak-kakak saya hanyalah seorang mahasiswa dan bukan dari jurusan politik. Tetapi mereka mendukung penuh atas apa yang saya lakukan,” jelasnya.

Banyak pengalaman berharga yang dia dapatkan. Satu yang paling membekas adalah pembuktian bahwa seorang perempuan seperti dirinya juga memiliki kemampuan setara dengan laki-laki dalam mengemban sebuah tugas negara. Beberapa kebijakan sudah berhasil dia jalankan.

”Benar-benar sangat menantang, apalagi untuk gadis seusia saya. Tidak mudah untuk perempuan disana dalam kepemimpinan. Setelah melihat keberhasilan saya, Ada satu hal yang penting disini, bahwa walaupun banyak perbedaan pendapat yang terjadi, saya sebagai seorang walikota berhasil menyatukan pendapat itu menjadi sebuah kebijakan,” jelasnya.

Tidak hanya itu, dia pun mengupayakan untuk meyakinkan penduduk kota tentang hukum dan peraturan. Selama menjabat, dia akhirnya semakin ’mengenal’ seperti apa penduduk di tanah kelahirannya itu. Mereka hanyalah orang biasa yang ’buta’ hukum, padahal hukum dan peraturan itulah yang mengatur hidup mereka. Bagaimana mungkin seseorang bisa diatur oleh sesuatu yang tidak dia pahami secara benar.

”Rakyat kebanyakan tidak mengerti tentang hukum dan peraturan-peraturan, jadi saya harus menjelaskan kepada mereka. Saya harus menjelaskan keputusan yang saya buat agar mereka mengerti keputusan itu untuk kebaikan mereka,” ulasnya.

Sebagai penduduk Palestina, Bashaer pun memiliki impian agar negaranya ini bisa merdeka seutuhnya. Dia percaya orang Palestina adalah kumpulan orang-orang tegar dan kuat yang bisa saling bekerjasama untuk membangun negara.

”Orang-orang Palestina adalah orang-orang yang kuat. Konflik di Palestina adalah konflik yang hebat. Kemerdekaan dan kebebasan tidaklah datang dengan mudah dan kami sedang membangun Palestina sekarang,” ujarnya.

(Sumber : http://nyata.co.id)